Tentang Blog

LightBlog

Breaking

Kamis, 30 April 2015

Menkominfo Ajak Masyarakat Tumpas Bisnis Online Esek-Esek

Maraknya prostitusi online di tanah air, membuat pemerintah semakin sigap menyikat habis bisnis seks online ini. Dimulai dari mencuatnya pembunuhan wanita pemuas nafsu, Deudeuh Alfisahrin (26) alias Tata Chuby. Dan dari kasus itu terbukti bila sosial media telah dijadikan ajang promosi terselubung bisnis 'esek-esek'. Menanggapi hal itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara mengatakan cara penanganannya juga dibutuhkan kerjasama. Makin banyak yang bekerjasama memberantas bisnis ini, semakin banyak pengaduan soal ini ke Kominfo. "Penanganan berbeda. Kalau mereka situs, cara penanganan rame-rame. Jadi kita ajak masyarakat kawal ini. Makin banyak yang aduin soal ini kita lebih enak," ujar pria yang akrab disapa RA ini seusai acara konferensi pers darurat narkoba di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, (29/04).


Lebih jelas, RA mengatakan bahwa di online ada dua cara. Kalau itu di website akan cenderung mudah. Sebab, menurutnya hal itu mudah ditanggulangi. " Kalau itu website, umumnya lebih mudah menghandlenya karena seperti broadcast ya. Kalau media sosial, one to one. Kalau ketahuan kita bisa tagging di Twitter. Laporkan di Twitter, kalau pornografi klik pornografi," ujarnya. Pada dasarnya, prostitusi di negeri ini, bukanlah barang baru. Sudah semenjak masa kolonial Belanda, prostitusi sudah menjadi 'penyedap' kehidupan tempo dulu. Sementara itu, menurut pengamat sosial media, Nukman Luthfie mengatakan bisnis pemuas nafsu sulit untuk diberangus, hanya bisa diminimalisir.

"Itu kan sudah kejadian sejak lama. Sejak zaman internet belum ada. Yang modelnya konvensional saja susah, apalagi yang melalui sosial media," ujarnya saat dihubungi Merdeka.com, beberapa waktu yang lalu.
Untuk sosial media, dikatakannya, pemerintah melalui Kemkominfo pun tidak bisa melakukan pemblokir terhadap akun sosial media seperti itu. "Kalau website bisa, tapi ini kan akun sosial media. Yang bisa blokir ya hanya yang punya saja," terangnya.

Sumber: merdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar