Tentang Blog

LightBlog

Breaking

Kamis, 30 April 2015

Tempat Mencari Bahan Batu Akik Klawing di Purwokerto

Batu akik Sungai Klawing Purbalingga, Jawa Tengah, masih menjadi primadona terutama untuk jenis nogo sui dan pancawarna. Para pencinta batu akik biasanya ada yang lebih suka membeli bahan mentah (rough) berupa batu yang sudah dibelah, sehingga terlihat motif dan warna yang ada dalam batu akik tersebut, untuk kemudian diasah atau digosok pada perajin dengan ongkos 20 -30 ribu. Keuntungan membeli bahan batu akik adalah bisa memilih motif apa yang kita bentuk dengan mengukur menggunakan penggaris atau mal. Dari lubang penggaris kita bisa melihat motif yang sesuai selera.

Maka pasaran bahan mentah batu Sungai Klawing pung meningkat. Termasuk banyaknya permintaan dari luar Jawa. Bagaimana dan dimana mendapatkan bahan batu Klawing?

Sebagian ada yang mencari langsung di sepanjang Sungai Klawing, dengan masuk sendiri kedalam sungai. Ada pula yang lebih suka membeli bahan di lapak-lapak bahan batu akik yang kini banyak tersebar di Purbalingga dan Purwokerto, bahkan hingga Banjarnegara. Di Purwokerto, kita bisa menemui penjual bahan di depan GOR Satria Purwokerto dan di pusat jual beli batu akik dan barang antik “Shelter Batu Akik dan Barang Antik” di Jalan Jend. Sudirman, di sebelah barat Pasar Wage. Di tempat para perajin atau tukang gosok batu, biasanya juga mejual bahan. Seperti di Rejasari Gemstone yang ada di Pasar Pon dan Satria Stone di Mersi.

Di Purbalingga dengan mudah kita menemukan lapak-lapak yang menjual bahan batu akik Klawing. Di pintu keluar terminal bus Purbalingga tiap hari ada pedagang yang menggelar dagangannya. Demikian pula di Banjarsari, perbatasan Purbalingga dengan Banyumas (dari Sokaraja arah Purbalingga). Di Bukateja lapak penjual bahan akik juga selalu ramai dikemuni orang-orang yang keranjingan hoby mengkoleksi batu akik ini.

Harganya bervariasi. Untuk bahan dijual mulai harga Rp 25 ribu-an hingga juta-an tergantung kualitas, untuk dimensi 10 x 8 cm atau separuh telapak tangan orang dewasa. Yang harganya tinggi adalah jenis pancarwarna dan nogo sui. Apalagi nogo sui tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia, menjadikan bahan nogo sui makin sulit ditemukan untuk yang berkualitas. Demikian pula makin sulit menemukan pancawarna dengan komposisi warna yang komplit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar