Ayah Rela Jual Ginjal Buat Sekolah, Anak Malah Kabur Sama Duda
Sugiyanto (40) kebingungan kemana lagi harus mencari anaknya Shara
Meylanda Ayu (20). Tanpa pesan, mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta
hilang tanpa jejak, dugaan sementara dia dibawa oleh pacarnya ke Pangkal
Pinang, Bangka. "Dua minggu tidak ada kemajuan (lapor) di Polres
Depok, akhirnya saya ke Polda Metro dan sempat ke Mabes juga. Dari
penyidik Polda, saya dapat informasi kalau anak saya ada di Bangka
Belitung," kata Sugiyanto di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (12/5). Dari
pengakuan temannya, Shara membawa ransel saat hendak pergi. Laptop yang
ditinggal Shara kemudian diselidiki. Didapatlah informasi dan foto
kalau Shara tengah mesra dengan duda bernama Aan yang tinggal di Bangka.
"Saya sudah pernah sekali bertemu Aan. Saya duga Ayu bersama Aan di Bangka. Aan juga mengaku dulu sempat memiliki istri dan punya anak," lanjut Sugiyono. Ini juga diperkuat penyelidikan polisi yang melihat facebook Shara. Di jejaring itu Shara mengaku berada di Pangka Pinang kepada temannya. "Saya sebulan ini tidak lagi menjahit. Saya sibuk cari Ayu. Tanpa Ayu, saya tidak semangat hidup. Saya tidak bisa tidur nyenyak," kata Sugiyanto.Masih lekang dalam ingatan Sugiyono betapa dia berjuang untuk menebus ijazah anaknya yang ditahan beberapa waktu lalu oleh Pondok Pesantren Al Asriyah Nurul Iman, Parung.
Saat itu bersama Shara mereka rela berdiri kepanasan sembari membawa poster yang berisi penawaran ginjal untuk menebus ijazah. "Jangankan ginjal, jantung pun saya jual jika ada yang mau. Demi anak saya, saya rela mati," kata lelaki yang bekerja sebagai penjahit ini. Dia tentu tidak ingin perjuangan dia untuk anaknya sia-sia. Dia ingin putrinya kembali dengan selamat. Sugiyanto telah melaporkan kehilangan Ayu ke Polres Depok dengan nomor laporan 193/VI/2014/PMJ/Res kota Depok. Sugiyanto warga Kp Sukatani RT 010 RW 002 Kel Tegal Alur Kec Kali Deres ini melaporkan Ayu yang hilang pascapamit berangkat ke kampus 10 April 2014 lalu. Ciri-ciri Ayu yakni tinggi 156 cm, berat 55 kg, badan gemuk, kulit sawo matang, jilbab, dan ada tahi lalat di leher tengah.
Sumber: merdeka.com
"Saya sudah pernah sekali bertemu Aan. Saya duga Ayu bersama Aan di Bangka. Aan juga mengaku dulu sempat memiliki istri dan punya anak," lanjut Sugiyono. Ini juga diperkuat penyelidikan polisi yang melihat facebook Shara. Di jejaring itu Shara mengaku berada di Pangka Pinang kepada temannya. "Saya sebulan ini tidak lagi menjahit. Saya sibuk cari Ayu. Tanpa Ayu, saya tidak semangat hidup. Saya tidak bisa tidur nyenyak," kata Sugiyanto.Masih lekang dalam ingatan Sugiyono betapa dia berjuang untuk menebus ijazah anaknya yang ditahan beberapa waktu lalu oleh Pondok Pesantren Al Asriyah Nurul Iman, Parung.
Saat itu bersama Shara mereka rela berdiri kepanasan sembari membawa poster yang berisi penawaran ginjal untuk menebus ijazah. "Jangankan ginjal, jantung pun saya jual jika ada yang mau. Demi anak saya, saya rela mati," kata lelaki yang bekerja sebagai penjahit ini. Dia tentu tidak ingin perjuangan dia untuk anaknya sia-sia. Dia ingin putrinya kembali dengan selamat. Sugiyanto telah melaporkan kehilangan Ayu ke Polres Depok dengan nomor laporan 193/VI/2014/PMJ/Res kota Depok. Sugiyanto warga Kp Sukatani RT 010 RW 002 Kel Tegal Alur Kec Kali Deres ini melaporkan Ayu yang hilang pascapamit berangkat ke kampus 10 April 2014 lalu. Ciri-ciri Ayu yakni tinggi 156 cm, berat 55 kg, badan gemuk, kulit sawo matang, jilbab, dan ada tahi lalat di leher tengah.
Sumber: merdeka.com

0 comments:
Post a Comment