Tentang Blog

LightBlog

Breaking

Jumat, 13 Maret 2015

Geliat Bisnis Gang Dolly Usai Tak Jadi Lokalisasi

Wirausahawan sukses ialah seseorang yang mampu melihat peluang usaha. Peluang ini bisa muncul di mana saja bahkan dari tempat bekas lokalisasi sekalipun. Salah satunya daerah eks lokalisasi Dolly, Surabaya, Jawa Timur. Kehidupan di bekas lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara ini memang telah berubah drastis usai ditutup pemerintah kota Surabaya. Masyarakat di lingkungan sekitar mulai kehilangan pendapatan.
Kejadian ini, dengan jeli dimanfaatkan oleh CEO Melukis Harapan, Dalu Nuzlul Kiram, sebagai kesempatan usaha. Dalu berkeinginan menggarap Dolly sebagai bisnis wisata sejarah.

Dalu atau dikenal 'Dalu Dolly' merupakan pengusaha muda di bidang informasi dan teknologi (IT). Keprihatinannya dengan kehidupan Dolly usai ditutup menjadi pemicu ide awalnya untuk melakukan usaha berkonsep wirausaha sosial. Dalu bercita-cita mengembalikan fungsi Dolly sebagai tempat wisata, namun bukan lokasi 'esek-esek' seperti sebelumnya. Dalam mewujudkan usahanya dia juga akan memberdayakan masyarakat setempat. Selain sebagai pemandu wisata, warga juga dapat membuka tempat makan bagi pengunjung Dolly.

"Tujuannya ingin membuat Dolly menjadi tepat wisata lagi. Dulu kan dikenal tempat "wisata" (esek-esek), tapi kita tentu beda bukan wisata itu lagi," kata Dalu di Jakarta, kemarin. Pria berusia 26 tahun ini menuturkan, wisata Dolly nantinya akan berupa wisata sejarah. Konsumen bisa melakukan kilas balik dengan wilayah yang telah menjadi area lokalisasi sejak 1967 ini. "Nanti masyarakat bisa keliling-keliling Dolly. Ini kan sejarahnya panjang, ya intinya wisata sejarah," terangya.

Dalu menceritakan sedikit mengenai latar belakang lokalisasi Dolly. Dolly awalnya merupakan kompleks pemakaman Tionghoa. Pada 1960, kawasan itu kemudian dibongkar dan dijadikan permukiman. Awal mula Dolly menjadi tempat 'esek-esek' ialah, pada 1967, seorang mantan pekerja seks komersial (PSK) bernama Dolly Khavit yang menikah dengan pelaut Belanda membuka sebuah wisma di kawasan itu.

Seiring berjalannya waktu, kawasan Dolly sebagai tempat lokalisasi menjadi berkembang. Lokalisasi pelacuran ini bahkan disebut-sebut sebagai yang terbesar se-Asia Tenggara.  Betapa tidak, sedikitnya 9.000 lebih pelacur numplek jadi satu di kawasan tersebut. Pria hidung belang kalangan atas hingga bawah tak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Tidak hanya penduduk lokal, wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini sekadar untuk memuaskan birahi.

Sumber:  merdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar