Tentang Blog

LightBlog

Breaking

Minggu, 19 Oktober 2014

Prabowo-Jokowi & Kisah Pelukan Soekarno Pada Jenderal Soedirman

Pertemuan di kediaman Soemitro Djojohadikusumo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan itu melegakan banyak pihak. Ketua Umum Partai Gerindra menyambut ramah kedatangan presiden terpilih Joko Widodo. Saat pemilihan presiden lalu, semua masih ingat bagaimana persaingan keduanya membuat panas tensi politik nasional. Tapi pertemuan Jumat (17/10) seolah menghapus semua kenangan persaingan di antara keduanya.

Prabowo memberikan hormat ala militer dan Jokowi membungkukkan badannya. Keduanya lalu berangkulan dan saling menempelkan pipi.

Kisah pertemuan Prabowo dan Jokowi ini serupa dengan pertemuan Presiden Soekarno dan Jenderal Soedirman. Kedua pemimpin besar ini sempat berbeda pendapat saat menghadapi agresi militer Belanda 18 Desember 1948.

Menit-menit saat negara genting akibat serangan Belanda, Panglima TNI Jenderal Soedirman menemui Presiden Soekarno .

Soedirman meminta Soekarno ikut gerilya, sementara Soekarno bersikeras tetap tinggal untuk selanjutnya berjuang melalui jalan diplomasi. Soedirman berpendapat Belanda sudah ingkar janji, tak ada gunanya diplomasi.

Sementara Soekarno yakin hanya dengan jalan diplomasi Indonesia bisa mendapat dukungan internasional guna menekan Belanda.

Pimpinan sipil dan militer bertolak belakang.

Soekarno-Hatta segera ditangkap oleh pasukan baret hijau Belanda sementara Soedirman memimpin perlawanan dari atas tandu, karena sakit paru-paru.

Jenderal Soedirman kecewa dengan keputusan Soekarno-Hatta yang memilih menyerah daripada ikut gerilya. Dengan tabah TNI melakukan perang gerilya melawan Belanda.

Soedirman pun tak percaya dengan perundingan Roem-Roijen yang ditandatangani 7 Mei 1949 oleh delegasi Republik Indonesia dan Belanda.

Dia tersinggung saat Mohammad Roem sebagai ketua delegasi Republik, tak lagi menyebut TNI melainkan hanya 'kesatuan bersenjata atau pengikut Republik yang bersenjata'.

Soedirman marah. Buat apa TNI terus bergerilya membuktikan Republik Indonesia dan TNI masih ada, kalau dengan mudah pemerintah tak mengakui mereka? Bukankah Serangan Oemoem 1 Maret 1949 telah membuktikan kepada dunia bahwa TNI masih ada dan terorganisir, bukan hanya perampok bersenjata seperti tuduhan Belanda?

Menyebut pengikut bersenjata berarti mendukung propaganda Belanda yang menyebut TNI sudah hancur dan tinggal menyisakan gerombolan bersenjata yang sudah tak teratur.

TNI merasa dikorbankan untuk kepentingan politik. Mereka yakin ini hanya akal-akalan Belanda. Apalagi hasil perundingan Roem-Roijen menyebutkan TNI harus menghentikan aktivitas gerilya.

TNI merasa posisi Belanda sudah terjepit. Keputusan ini jelas merugikan TNI. Sudah menjadi kebiasaan Belanda minta berunding jika sudah terdesak. Lalu jika sudah menyusun kekuatan mereka akan menyerang kembali.

Bukankah sudah dua kali Belanda melanggar perjanjian Linggarjati dan Renville? TNI tak mau dibodohi untuk ketiga kalinya.

Pertentangan Soekarno dan Soedirman makin tajam.

Soekarno sampai menulis surat pribadi dengan nada penuh hormat pada Jenderal Soedirman. Menyebut Soedirman dengan panggilan yang mulia dan meminta Soedirman turun dari hutan dan kembali ke Yogya. Surat itu kemudian diantarkan oleh Overste Soeharto.

Walau berat hati Soedirman akhirnya kembali ke Yogyakarta. Pimpinan militer harus tunduk pada keputusan presidennya. Dia memenuhi panggilan Presiden Soekarno tanggal 10 Juli 1949.

Pertentangan terjadi, apakah langsung memeriksa barisan kehormatan, atau ke istana menemui Presiden Soekarno dan Wapres Mohammad Hatta yang sudah dibebaskan Belanda.

Kolonel TB Simatupang yang punya ide meminta Soedirman lebih dulu mampir ke istana. Momen ini penting artinya, pertemuan keduanya seakan menghapus perbedaan pendapat antara pemimpin sipil dan militer. Jika tak menemui Soekarno, tentu rakyat akan bertanya-tanya.

Soedirman cukup lama terdiam. Lalu akhirnya mengangguk setuju.

"Saya segera lari ke istana memberi tahu bahwa sore hari nanti Pak Dirman ingin menghadap Presiden dan Wakil Presiden," kenang Simatupang.

Pertemuan itu sangat mengharukan. Di depan istana Presiden Yogyakarta, Soekarno merangkul Soedirman yang bermantel lusuh. Soekarno sempat mengulangi pelukannya karena saat pelukan pertama tidak ada yang memotret momen itu. Mata keduanya berkaca-kaca haru.

Inilah pertemuan pertama mereka sejak terakhir bertemu 19 Desember 1949 lalu. Setelah melapor, Soekarno-Hatta menanyakan kabar Soedirman. Percakapan berlangsung dengan hangat.

Baru setelah itu Soedirman memeriksa barisan kehormatan TNI yang sudah menunggunya. Pasukan TNI dengan seragam dan senjata seadanya berbaris rapi di depan panglima mereka.

Kali ini giliran mereka yang menangis haru melihat Soedirman dengan mantel lusuhnya.

Pelukan Bung Karno dan sikap legowo Pak Dirman mengakhiri pertentangan sipil dan militer.

Sumber: merdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar