Sejak ledakan Bom Bali 2002, teror di Indonesia terus terjadi. Polisi
menjadi sasaran karena dianggap menghalangi kegiatan mereka. Teranyar,
dua anggota Kepolisian Sektor Pondok Aren, Tangerang, ditembak saat
hendak apel malam. Pelakunya merupakan jaringan teroris Indonesia Timur
dipimpin Santoso.
Menurut catatan Badan Nasional Penanggulang
Teroris (BNPT), di Asia Tenggara nama Indonesia tersohor lantaran banyak
warga negaranya menjadi teroris. "Kalau di Asia Tenggara Indonesia ini
top," kata Kepala BNPT Ansyaad Mbai saat ditemui Senin lalu di
kantornya, kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
Berikut penjelasan Ansyaad Mbai kepada Arbi Sumandoyo dari merdeka.com.
Terkait keberadaan ISIS sejak Maret lalu, dari mana mereka dapat dana?
Itu
belum jelas. Tapi pengalaman selama ini para teroris itu selain iuran,
mereka cari sendiri yang mereka sebut fai. Merampok bank, merampok toko
mas, macam-macam.
Jadi perampokan di Indonesia untuk mendanai teror?
Untuk sekarang patut dicurigai untuk kegiatan terorisme.
Apa sebenarnya ingin mereka tegakkan di Indonesia dengan melakukan teror?
Menegakkan
syariat Islam sudah pasti, Daulah Islamiyah itu tujuan mereka. (Tujuan)
ini dibawa dari Al-Qaidah, persis ISIS. Setelah pusat kekuasaan
sementara mereka di Aceh diobrak-abrik, kemudian mereka pindah ke Poso.
Kalau tidak cepat ditindak, mungkin bisa menambah senjata lebih banyak.
Pasokan senjata mereka dari mana untuk latihan di Poso?
Senjata
mereka dapatkan umumnya dari Filipina Selatan. Senjata itu didapat dari
orang-orang Indonesia jadi tokoh teroris di sana. Seperti Dul Martin
dan Umar Patek, kan kembali dari sana.
Artinya banyak orang Indonesia jadi teroris?
Kalau di Asia Tenggara Indonesia ini top.
Karena mayoritas Islam atau apa?
Sebelum
munculnya gerakan teroris, gerakan radikal mirip teroris sudah ada
dasarnya di kita. Sejak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia dipimpin
Kartosoewiryo memang sudah ada. Jadi kita semua tidak murni hanya yang
impor. Tahun 1940-an dan 1950-an sudah ada di kita. Hanya beda sedikit.
Kalau dulu Negara Islam Indonesia, sekarang Daulah Islamiah. Itu persis
sama.
Artinya gerakan radikal di luar negeri itu eksis, itu juga menumbuhkan aksi teror di Indonesia?
Seperti
ada angin baru. Jadi waktu Al-Qaidah dipimpin Usamah Bin Ladin, tujuan
persis khilafah, syariat Islam. Strateginya adalah memerangi Barat
salibis, Yahudi, setelah Rusia pergi.
ISIS ini tujuan tetap
sama, khilafah dan syariat Islam. mereka bilang pemerintah Islam belum
konsisten dengan syariah. Makanya orang Arab bilang ISIS lebih berbahaya
dari Al-Qaidah.
Bagaimana pola komunikasi ISIS di Indonesia dengan yang ada di Irak dan Suriah?
Sekarang
orang Indonesia berangkat ke sana tidak tahu mau gabung Jabhat An-Nusra
atau ISIS. Mau perang, perang ke siapa? Itu sesama Islam. Makanya
Al-Qaidah masih ada dasar logikanya walau itu tidak benar. Sehingga
wajar kalau orang Islam siapa saja tertarik. Karena ada saudara sesama
muslim di Afganistan sedang tertindas, dizalimi, diduduki oleh tentara
asing, ateis lagi.
Kalau ISIS memerangi pemerintah Islam
sendiri, bahkan mengembangkan aliran Islam radikal. Aliran ini kan ada
disemua negara Islam, termasuk Indonesia. Artinya perang dengan sesama
negara Islam. Ini bahaya.
Artinya keberadaan ISIS di sini bisa memecah belah Islam di Indonesia?
Memang
embrionya sudah ada permusuhan Sunni dan Syiah. Itu di Sampang.
Sebelumnya juga ada sekolah dianggap Syiah diserang juga. Itu bahaya
sekali.
Berapa orang Indonesia sudah berbaiat kepada ISIS?
Yang sudah pasti di Nusa Kambangan 18 orang, itu adalah narapidana teroris.
Meski di dalam penjara mereka tetap bisa berkomunikasi dengan anggota di luar?
Iya.
Bahkan dulu Abu Bakar Baasyir sempat memberi tausiah-tausiah. Kita
tidak bisa salahkan penjaranya karena memang belum ada regulasi khusus.
Makanya BNPT berinisiatif membangun pusat penjara orang-orang radikal di
Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Selama ini sudah ada sipir direkrut jadi teroris?
Sudah
ada di LP Kerobokan, Bali. Yang menyelundupkan komputer jinjing kasih
Imam Samudera siapa? Itu sipir penjara. Di Banyumas sudah ada.
Artinya meski ditangkap mereka tetap bisa berkomunikasi untuk menggerakan kegiatan teror?
Ini berbahaya. Merekrut tentara, polisis, juga sudah ada kasusnya.
Siapa sasaran mereka?
Yang
suka menghambat itu menjadi musuh mereka dan kejadian teror kepada
polisi itu salah satunya. Ini sekaligus kelemahan terbesar kita ketika
teroris itu menganggap musuh mereka hanya polisi.
Gelombang
anti-ISIS ini bagus sekali. Para ulama bangkit, teroris juga melihat.
Ternyata semua tentara bangkit, pemerintah bangkit. Selama ini hanya
polisi, itu salah, kelemahan kita. Jadi harus dibangkitkan penolakan
dari semua kalangan, terutama tokoh-tokoh agama.
Kapan BNPT mendeteksi gerakan ISIS di Indonesia?
Sejak
konflik Suriah itu. Kita ini kerja sama dengan internasional, seperti
di Uni Emirat Arab setahun sekali melakukan pertemuan. Dari situ, kita
sudah diberitahu hati-hati dengan ISIS.
Sejak setahun lalu sudah santer informasi ada orang Indonesia di Suriah. Mereka sudah berlatih perang di sana.
Mereka sudah dilatih ISIS?
Belum
jelas betul karena waktu itu dunia internasional tahunya Jabhat
an-Nusra. Orang kita di sini tidak begitu tahu ISIS. Pokoknya tahunya ke
Suriah mau berjihad. Di perbatasan Turki dan Suriah mereka dilatih di
sana.
November tahun lalu kita bermitra dengan ulama dari Mesir, Yordania,
dan Arab Saudi. Ulama itu sudah mengingatkan saya, "Jenderal hati-hati
dengan ISIS." Mesir sudah mengalami, pulang dari Suriah, mereka mengebom
sana-sini segala macam.
Kemarin hangat soal Santoso, apa ada hubungannya dengan ISIS?
Santoso
sudah berbaiat kepada ISIS. Menunggu perintah menjadikan Indonesia
Timur bagian dari ISIS. Proses ISIS memang sudah lama. Tidak perlu orang
Iraknya ke sini, tapi orang Indonesia menjemput bola.
Sumber: merdeka.com
No comments:
Post a Comment