Minggu, 09 Juni 2013

Posted by Eko Sutrisno | File under :
"Saya datang ke Jakarta karena ingin mengubah nasib, karena di kampung ga gitu bagus untuk ekonomi. Saya pengen ngubah nasib untuk lebih baik lagi." ujar Rudi Supriyanto tentang kesaksian hidupnya.

Untuk menghadapi kekejaman ibukota Jakarta, Rudi pun mempersiapkan dirinya. Dia diberi bungkusan kain putih oleh sang dukun yang lenyap di tangan kirinya. Pesan sang dukun, dia tidak boleh memukul orang menggunakan tangan kiri karena sangat berbahaya.

Sesampainya di Jakarta, Rudi pun bekerja sebagai kenek angkutan umum. Disanalah dia mengenal minum dan judi. "Kadang kalau kita sama-sama nongkrong ya, kalau kita ga minum, mereka minum, kita dikecilin gitu."

Di situ juga, dia mulai berani melakukan kekerasan. Saat salah satu mobil pribadi mencoba menyalip dan pada akhirnya melempari angkotnya dengan batu, Rudi turun dan menonjok si pemilik sopir tersebut. Di situ, dia merasa begitu bangga.


Seiring berjalannya waktu, Rudi bertemu dengan wanita hitam manis asal Ambon dan menikah. Kebiasaan buruk Rudi semakin menjadi-jadi. Ketika dia mabuk, maka dia pun tak segan-segan memarahi istri padahal istrinya begitu baik.

Suatu hari, setelah minum 12 botol bersama ketiga orang temannya, Rudi pulang ke rumah dalam keadaan tidak sadar. Di situ, dia tanpa sadar memegang kumpulan baut, batu-batuan yang ada di rumahnya dan dia makan. Dia juga pernah tidur di toilet hanya dengan memakai celana dalam akibat mabuk. Sebenarnya ada rasa penyesalan sesudah Rudi mabuk-mabukan, namun karena pengaruh lingkungan hal itu terus dilakukannya.

"Hancur ya hati, kapan gitu suami saya dipulihkan?" tanya Linche Selapatoa. "Karena Tuhan benci perceraian, saya tetap bertahan sekalipun suami saya sering menyakiti saya. Kekuatan saya hanyalah doa. Saya percaya Tuhan akan pulihkan, pulihkan suami saya, keluarga saya, rumah tangga saya, itu yang saya pegang dari Tuhan." ujarnya lagi.

Yang terjadi, tingkah laku Rudi makin parah. Dia ikut temannya yang judi togel. Dia berharap jika judi togel dan menang, maka dia tidak usah bekerja. Itu harapannya. Demi hidup senang dengan cara yang mudah, Rudi dan temannya pun melakukan segala cara termasuk mencari nomor togel ke kuburan ataupun rumah kosong. Di sana mereka akan memanggil roh.

Meskipun begitu, nomor yang mereka beli jarang ada yang keluar. Namun, hal itu tak mengurungkan niat mereka untuk terus beli dan mencari nomor togel. "Karena ga pernah dapat togel dan pulang ga bawa duit, itu selalu cekcok terus di dalam rumah. Ga ada kedamaian di dalam rumah gitu." ujar Rudi. Percekcokan yang sering terjadi, membuat dia lama kelamaan menghindari teman judi togelnya sehingga dia pun mengurangi beli togel.

Suatu hari, dia bertemu dengan teman lainnya yang mengajaknya ke sebuah pertemuan di sebuah komunitas. Berkat kegigihan temannya, Rudi akhirnya mau datang ke sana setelah menolak beberapa kali. Di komunitas ini, Rudi mendapatkan pencerahan yang baru.

Di situ Rudi didoakan untuk pelepasan. Dia diberikan kertas kosong dan disuruh menuliskan dosa-dosanya di masa lampau. Ada perkataan yang mengusik hatinya dan membuatnya berubah. "Yesus menebus perbuatan-perbuatan dosa, perbuatan lama saya yang sudah saya lakukan sebelum saya mengenal Tuhan. Karena saya yang berdosa, diampuni dan jimat-jimat itu hilang sendiri ya.."

Setelah mengalami pencerahan, Rudi ingin berhenti mabuk-mabukan dan judi tapi ternyata tidak semudah itu. Dia harus selalu berusaha menghindar dari teman-temannya yang minum di komunitas jalanan tersebut. Terkadang dia merasa tidak mampu, tapi kekuatan dari Tuhan yang memampukannya.

Perlahan tapi pasti, diapun lepas dari mabuk-mabukan dan judi. Meski hidup sederhana di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, Rudi dan istrinya masih bisa melihat kebaikan Tuhan. "Walaupun kadang ga ada duit ye, tapi saya itu merasakan damai di dalam rumah tangga saya, mengalami pemulihan dan lahir baru." ucapnya penuh rasa syukur.

Sumber: jawaban.com
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

PENGUNJUNG BLOG

Flag Counter
The Alien
Back To Top